Jangan Bunuh Dirimu

Januari 10, 2011

Di setiap game, ada saja kesulitan-kesulitan macam monster, musuh, jebakan mematikan, dan sebagainya. Lalu belakangan muncul tulisan: game over. Aah! Player berseru kesal. Sudah, begitu saja. Toh bisa direstart. Tokoh yang dimainkan seketika hidup kembali dan mengulang dari level tertentu(atau parahnya harus kembali ke level 1 lagi). Kadang-kadang kalau keadaannya kepepet malah sengaja membunuh diri sendiri karena bisa diulang dari awal.

Namun tidak demikian dalam dunia nyata. Banyak kasus orang mati karena membunuh dirinya sendiri. Mungkin karena kesulitan di dunia nyata terlalu besar dan dia terlanjur putus harapan untuk menamatkannya, maka diambillah jalan pintas game over tersebut. Ya sudah. Dia benar-benar tamat, karena tidak ada menu restart.

Di dunia game semua berjalan sesuai logika manusia khususnya logika si game creator. Kalau begini maka akan begitu. Lalu player yang tangguh dan benar-benar mengikuti rule akan keluar sebagai pemenang. Kalau ada cheat code maka semua player bahkan yang payah sekalipun juga akan menang, bahkan lebih cepat menamatkan gamenya.

But life isn’t as simple as in the game. Di dunia nyata, semua tak selalu berjalan sesuai logika manusia. Memang harus cukup tangguh untuk bisa melanjutkan ke level berikutnya. Cheat code (baca: curang) juga ada di dunia ini, banyak malah, tapi efeknya kelak akan menyengsarakan player itu sendiri. Cepat atau lambat.

Seseorang tanpa sadar telah memberi inspirasi waktu saya duduk di tepi luar lantai 2, kemudian dia berkata, “Jangan bunuh diri sekarang lho”, dengan maksud bergurau. Saya cuma senyum-senyum. Apa dia pikir saya sudah menyerah dalam mengarungi lika-liku dunia nyata ini? Begitu dugaan saya pertama kali saat mendengar ucapannya. Saya ralat seketika. Hei, dia kan cuma menyapa saya saja. Mungkin itulah cara orang-orang humoris menyapa orang.

Bunuh diri tidak menyelesaikan masalah. Malah menambah masalah. Tapi terkadang orang-orang yang ‘sakit’ tidak memikirkan hal tersebut. Saya bersyukur karena kepercayaan saya melarang tindakan bodoh itu.

Di suatu tempat nun jauh disana ada istilah ‘bunuh diri lebih terhormat daripada menanggung malu’. Terdengar heroik dan menggetarkan jiwa. Tapi apa mereka tahu bahwa masih ada alam sesudah mereka mati?

Coba renungkan dalam beberapa menit.

Anda terbujur tanpa nyawa karena sebuah kesengajaan yang Anda buat sendiri. Foto dan  berita mengenai Anda muncul di koran, tapi bukannya membanggakan malah mengiris hati orang terdekat Anda. Anda berhasil keluar dari kesulitan-kesulitan di dunia, melegakan sesaat, tapi kesulitan baru bahkan yang besarnya berkali lipat telah menanti Anda di alam berikutnya. Anda tak bisa melarikan diri dari alam itu, sebab  istilah game over tidak berlaku disana, sementara Anda tak memiliki bekal apapun sebagai penolong Anda dari kesulitan.

Kepada Anda yang mulai merasa tulisan ini sampah penuh kata-kata klise dan tak bermutu, lalu Anda memutuskan untuk berhenti membaca ini:

Mungkin sebagian dari Anda ada yang merasa tak memiliki orang terdekat, merasa seluruh manusia membenci Anda , merasa bahwa Anda adalah manusia paling sengsara di dunia, dan merasa tidak ada gunanya bertahan hidup dalam situasi macam ini. Apakah pernah terlintas di benak Anda bahwa,

Adakah alasan kenapa Anda ‘ada’ disini, di dunia ini? Kenapa bukan orang lain saja yang lahir, kenapa malah Anda?

Creator/Pencipta Anda, Tuhan yang Maha Esa, Allah SWT menjadikan Anda hidup sebagai player di muka bumi ini karena suatu alasan. Kalau tak ada alasan lantas bagaimana bisa Anda berada disini sambil memelototi tulisan di blog ini? Mungkin banyak yang belum menyadari apa alasan itu. Coba tanyakan pada nurani Anda masing-masing.

Terus terang pada awalnya saya merasa tak pantas menulis ini. Saya manusia yang tak luput dari dosa. Ada alasan kenapa saya menulis. Pertama, ini menjadi catatan untuk diri saya dan semua yang membaca agar selalu optimis dalam menjalani hidup. Kedua, saya merasa prihatin melihat begitu banyaknya kasus bunuh diri. Kenapa harus bunuh diri? Semua masalah, cepat atau lambat pasti ada jalan keluarnya. Disinilah kesabaran dan keimanan manusia diuji.

Selama ini saya berusaha untuk sabar, meskipun rasanya sulit sekali. Saya sering membatin: Kenapa saya begini? Kenapa saya tidak begitu? Kenapa harus saya? Dan banyak lagi yang kalau dijabarkan mungkin akan menambah depresi. Saya sering memandang langit yang tak berujung dengan pikiran entah kemana karenanya. Namun saya yakin Tuhan yang Maha Esa tak akan menguji hambaNya diluar batas. Banyak hal-hal yang (kelihatannya) kecil yang harus saya syukuri.

Jogja, 12-12-2009 12.06AM  (tapi baru sempat diposting sekarang ^^)

Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah, tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik, Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasaNya bagi hambaNya yang sabar dan tak kenal putus asa. (D’Massive-Jangan Menyerah)

Bersyukurlah pada yang Maha Kuasa, hargailah orang-orang yang menyayangimu, yang selalu ada, setia disisimu. (Gigi-Sang Pemimpi)

Perokok yang Egois

Januari 10, 2011

Kenapa orang suka merokok? Apa sih manfaat dari merokok?

Apakah agar terlihat ehm.. Keren? Gaul? Dewasa? Pemberani? Tangguh? Jantan? Macho?

Mungkin tidak selalu begitu alasannya. Kenapa? Karena bukan hanya pria yang menjadi perokok. Wanita pun merokok. Karena bukan hanya orang dewasa yang  menjadi perokok. Anak ingusan pun merokok.

Sebenarnya tidak ingin menghakimi (siapa sih aku ini?) tapi sejujurnya menurut pandangan pribadi, perokok itu.. EGOIS.

Egois kepada orang di sekitarnya, egois kepada keluarga, egois kepada teman, dan egois kepada dirinya sendiri. Orang yang sehat wal afiat bisa terkena komplikasi penyakit yang lebih parah karena terpaksa menjadi perokok pasif.

“Kalau tidak mau jadi pasif, jadi perokok aktif aja sekalian!” Maka tercetuslah gerakan ‘Merokok Berantai’. Wow. Bukannya memperbaiki, malah memperparah keadaan.

Merokok berarti membunuh orang-orang tercinta secara perlahan dan tak kasat mata.

Siapa yang tega menyakiti keluarga sendiri? Ayah, ibu, istri/suami, anak, kakek, nenek, adik, kakak. Bagaimana jika mereka menderita suatu penyakit, dan bertambah buruk karena asap rokok yang dikepulkan oleh seseorang yang mereka sayangi?

Siapa yang tega menyakiti teman sendiri? Penolong di kala susah, penghibur di kala sedih. Bagaimana jika dia menderita suatu penyakit, dan bertambah buruk karena asap rokok yang dikepulkan oleh seseorang yang mengaku sebagai sahabatnya?

Terkecuali jika teman sama-sama merokok, saling bertukar asap rokok, saling menambah penyakit. Setia kawan, bukan? Tinggal tebak saja kelanjutan cerita tentang persahabatan sesama perokok ini (itu pun kalau ada lanjutannya).

Sepenggal kutipan dari puisi karya Taufik Ismail berjudul Tuhan Sembilan Senti membuatku tercenung:

“ 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir(babi).
Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?”

Jadi Guru Dadakan

Desember 3, 2010

Salah satu yang berkesan adalah mendapat kesempatan mengajari anak-anak SD yang rame, usil, tapi semangat belajarnya tinggi. Mereka sering menjemput kami, guru-guru dadakan yang sudah ditunggu-ditunggu tapi tak kunjung datang. Suara timbul tenggelam nyaris hilang di tengah kegaduhan anak-anak itu.

Ada anak yang bandel, susah diatur. Ada anak yang tak bisa duduk diam. Ada anak yang kecil mungil tapi semangat terus. Ada anak yang tomboinya minta ampun. Ada anak yang narsis. Ada anak yang cerdas dan penurut. Ada anak yang rajin. Ada anak yang tidak menganggapku guru tapi teman bergosip (astaga!). Maaf sampai sekarang masih belum hafal seluruh nama-nama kalian. Kesempatan yang diberikan memang terlalu singkat.

Kalian sebenarnya berhak menuntut ilmu setinggi mungkin. Walau ada banyak kekurangan yang mungkin menghambat kalian. Kita tak bisa menyalahkan keadaan, kan. Tapi kelak kalian pasti akan jadi ‘orang’. Aku tidak main-main dengan apa yang kukatakan di akhir perjumpaan kita. Semoga kalian dapat meraih cita-cita, apapun itu.

Oh,ya. Bersabarlah akan guru yang killer, karena tak selamanya kita duduk di bangku yang sama. Aku tahu itu karena aku pernah mengalaminya.

Buat adekku yang suka nggosip: Makasih banyak, dek, atas pertemanan kita selama ini. Nggosipnya dikurangi, ya. Hayo, hampir lulus. Belajar, belajar! Kangenn..

It feels like..

September 27, 2010

Astaga, aku sedang diuji rupanya. Huff. Kebetulan demi kebetulan terus berulang. Dan aku mulai tidak terkendali. It feels like everything is out to make me lose control. Kenyataan yang lucu, sekaligus menyakitkan. Serasa menonton komedi saat wajah diperban. Setiap kali tertawa, nyeri di wajah akan bertambah parah dan gurat luka pun makin menganga.

Astaga, kenapa selalu begitu. Aku bisa saja tidak begitu. Wondering what’s my purpose. I don’t even know why I do the things I do. Tapi apa ini salah? Aku sempat dialog denganMu. “Apa ini salah? ” Lalu aku pun menyadarinya dan mengeluh panjang pendek. Ya, aku memang bersalah. Apa Kau sudi memaafkanku yang tolol ini? Atau ini karena hobiku makan buah simalakama? Ah, rumit sekali menjadi seorang aku.

Masih adakah kesempatan untukku?

Flu..oh..flu

April 29, 2009

 

Apa itu flu babi? Kenapa orang-orang pakai masker yang menutupi seluruh hidung mereka? Apa flu babi bisa menyebabkan hidung menyerupai- eh, bercanda ding! Mereka pakai masker karena takut tertular flu.

Jadi teringat sesuatu, nih. Disini orang flu nggak ada yang pakai masker. Yang masih sopan, paling nggak bawa tisu atau sapu tangan. Yang lainnya yah, gitu deh. Apa adanya. Sentrap-sentrup (suara yang timbul saat kita menahan agar tidak meler) di muka umum itu biasa. Anak- anak kecil kalau flu meler terus, dan cuma diusap dengan tangan atau kaus mereka hingga cemong sana-sini. 

Malah waktu jaman sekolah, beberapa anak nggak segan membersit hidung dengan tisu di dalam kelas. Mantap banget suaranya. Huahaha!! Peace, lho buat yang ngerasa! ( saya juga pernah, tapi suer, nggak ada suaranya, kok :D )

 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.