Seorang Tua yang Terdampar di Tahun 2008

Juli 14, 2008 by daiichihime

Ini kisah nyata..

Berpuluh tahun yang lalu, seorang anak SD memperhatikan seorang penjual kerupuk sekaligus es lilin. Sang anak hafal sekali dengan pria itu, karena hampir tiap hari berjualan di depan sekolahnya. Bapak penjual itu selalu memikul dua wadah raksasa berisi dagangannya. Dia memanggil para pembeli dengan alat sederhana bersuara gemerincing.

Kembali ke tahun 2008..

Si anak SD sudah menjadi seorang pria dewasa sekarang. Telah beristri dan dikaruniai tiga anak. Berpendidikan tinggi, berpenghasilan cukup, dan punya rumah sendiri. Suatu hari, ia ingin membelikan es krim untuk anak-anaknya. Maka, diajaklah ketiga anaknya ke toko es krim. Sementara anak-anak kegirangan memilih es krim, dia melihat seseorang yang tak asing di ujung jalan.

Seperti dejavu tapi ternyata bukan.. 

Seorang tua sarat keriput memikul dua wadah raksasa tengah berjalan kaki di bawah juluran lidah matahari. Orang yang sama, yang dilihatnya saat SD dulu. Tapi dia lebih bungkuk dan menyedihkan. Wadah raksasa itu sama persis seperti dulu, hanya saja sekarang lebih kusam. Kerincingan itu juga masih digenggam, sambil sesekali digoyangkan oleh tangan rapuhnya. Si tua itu masih saja berjualan makanan yang sama. Dan menempuh perjalanan panjang dengan cara yang sama.

Si anak yang sekarang sudah dewasa itu tercenung. Dirinya yang cuma anak ingusan sudah bermetamorfosis, sedangkan si penjual itu? Tak ada yang tahu.

Mungkin si penjual tak sadar bahwa jaman telah berubah, sementara dirinya terus terjebak dalam jaman purbakala. Dia berjualan kerupuk dengan berjalan kaki di saat penjual kerupuk lain naik sepeda atau sepeda motor. Dia berjualan es lilin saat anak-anak lebih tertarik dengan es krim mahal yang mengiming-imingi hadiah play station. Motor, mobil, orang-orang yang berseliweran pun acuh saja, tak peduli apa yang dia jual. 

Apakah dia dulu, saat merapi-rapikan dagangannya, tak sengaja menemukan mesin waktu di sela-sela kerupuk, lalu terlempar ke tahun ini?

Entah bagaimana nasib orang tua itu…

Satu Hari Tanpa Rokok?

Juni 3, 2008 by daiichihime

Meskipun sudah berlalu, tapi adanya peringatan hari tanpa tembakau -yang cuma satu hari itu- membuat saya tergelitik untuk menyampaikan beberapa bait kata. Seharusnya pada hari itu [cuma satu hari!] masyarakat dengan sukarela mematikan api rokoknya. Dan para perokok pasif yang menderita sakit akibat ulah perokok aktif dapat melonggarkan paru-parunya, menghisap udara tanpa CO2 dan racun mematikan dari mulut perokok. Walau cuma satu hari.

Tapi apa mau dikata.. tidak ada respon berarti yang ditunjukkan masyarakat perokok. Mayoritas dari mereka mengaku tidak tahu-menahu tentang hari spesial itu. Yang tahu juga tidak ambil pusing. Toh cuma satu hari, percuma, nggak akan ada efeknya, mungkin begitu pikir mereka. Perokok aktif kembali menjalankan hobi mereka. Perokok pasif kembali harus terbatuk-batuk supaya racun tidak masuk ke paru-paru mereka, harus menahan nafas selama perjalanan naik angkutan umum, harus mencuci jaket yang barusan dipakai karena bau rokok orang yang duduk didekatnya. Langit Indonesia kembali terselimuti oleh asap rokok.

Hari tanpa tembakau tidak cocok diterapkan di Indonesia. Karena memang benar, tidak ada efeknya. Perokok aktif baru memutuskan untuk berhenti merokok setelah melihat hasil scan paru-parunya. Maunya berhenti setelah sakit parah. Tentu saja, permintaan untuk sehari puasa rokok disepelekan. Rokok membuat ketagihan, sama saja efeknya seperti heroin dan teman-temannya yang kecil-kecil tapi super mahal itu. Tapi entah kenapa rokok tidak ikut dimasukkan dalam kategori terlarang.

Menghentikan kepulan asap rokok di Indonesia bagai makan buah simalakama. Buruh pemanen tembakau hidup karena keberadaan pecandu rokok. Kalau sehari tanpa rokok, mereka bakal makan apa?! makan tembakau?! Orang-orang akan terus merokok. Pejabat merokok. Rakyat miskin merokok, tidak makan tidak apa, asal masih bisa merokok. Perokok usia pelajar paling melimpah. Dokter yang menganjurkan gaya hidup sehat juga merokok. Massa yang menuntut ini-itu supaya dunia kecil ini bebas rokok, dilirik juga tidak. Sepanjang jalan di tanah air setia dihunjam milyaran iklan rokok.

Indonesia jadi negeri rokok.

Turut berduka cita.

Sss..hah!

Mei 7, 2008 by daiichihime

Sambal itu aneh. Bila kebanyakan makan sambal: wajah memerah, mata dan hidung berair, mulut mengeluarkan suara berdesis aneh, tangan melakukan gerakan mengipas-ngipas. Yang lebih parah bila berlanjut ke lambung, perut terasa sakit, melilit, dan harus bolak-balik ke toilet. Anehnya, siksaan itu tidak dipedulikan. Karena, tanpa disadari tangan akan bergerak menciduk nasi ke piring yang kedua kali, atau mungkin yang ketiga kali, untuk dimakan bersama sambal itu lagi!

Sambal itu ajaib. Bisa menyulut emosi orang, tapi bisa juga meredam emosi orang. Ada orang yang habis makan sambal mendadak uring-uringan dengan muka merah padam. Mungkin karena kesal kepedasan, maka semua jadi sasaran kekesalan. Ada orang yang tadinya ingin marah-marah, tapi tidak jadi karena makan sambal. Sambal jadi pelampiasannya. Amarahnya langsung lenyap, terhapus oleh pedasnya sambal.

Sambal itu menakutkan. Anak-anak kecil menangis saat pertama kali merasakan pedasnya sambal. Rasa pedas itu terekam jelas di otak dan mereka tidak ingin merasakannya lagi. Lalu, setiap mendengar kata ‘ini ada sambalnya’ atau ‘ini pedas’ mereka tidak akan mau menyentuh makanan yang dimaksud. Anak-anak besar menakuti anak-anak kecil [yang menginginkan makanan miliknya] dengan cara ini.

Sambal itu merakyat. Bisa ditemui dimana saja. Di gerobak dorong penjual soto, sate, pempek, siomay, bakso, dan mi ayam. Di rumah makan Padang sampai restoran hotel berbintang. Di tenda-tenda penjual nasi kucing dan gorengan. Di dalam bakul jajanan yang digendong seorang ibu tua.

Meskipun pedasnya minta ampunn.. tetap saja jadi favorit. Sekali mencocol sambal, entah itu sambal bawang, sambal goreng, sambal terasi, sambal tomat, sambal tempe, sambal kacang, sambal kecap, sambal cabe ijo, atau sambal botolan, terbitlah suatu sensasi di papilla lidah. Bukan manis, asin, asam, ataupun pahit. Wuihh…! Begitu unik menggigit.

Aku, Langit, dan Sahabat

April 29, 2008 by daiichihime

Aku hanyalah seorang anak berseragam putih merah. Pendek, jelek, kurus, bodoh, dan hidup dalam fantasi anak TK. Bukan anak SD. Dari dulu aku ingin punya sayap. Yang lebar dan putih. Aku ingin terbang dengan sayapku. Terbang tinggi sekali ke langit. Karena di tanah sangat menjemukan. Karena kakiku terlalu payah untuk dipacu berlari waktu main kasti. Karena aku sering mimpi dikejar-kejar, dan di mimpi itu aku tetap tidak mampu berlari. Kalau bisa terbang, aku ingin melihat awan dari dekat. Lalu duduk di awan yang paling empuk. Sambil makan es krim. Tapi itu cuma khayalan anak kecil sepertiku. Aku tidak bisa melihat awan dari dekat. Aku tidak punya sayap. Aku tidak punya baling-baling bambu. Aku belum pernah naik pesawat. Kata ibuku tiket pesawat itu mahal sekali harganya. Terlampau mahal untuk seorang anak yang uang sakunya cuma dua ratus rupiah.

Ada seorang teman, aku lebih senang menyebutnya sahabat. Dia tidak populer. Dia tidak pintar. Dia tidak cantik. Dia tidak begini dan begitu. Tapi dia menemaniku mengarungi hamparan langit biru. Tanpa sayap. Tanpa baling-baling bambu. Tanpa harus membeli tiket pesawat. Kami mengepakkan tangan di udara dengan bebas. Tanpa risau akan terjatuh. Kami melintasi atap sekolah yang gentingnya sudah lumutan. Melintasi anak-anak di bawah, yang asyik berlari kesana kemari. Melintasi area persawahan. Tidak lupa melambaikan tangan pada sekawanan burung yang berpapasan dengan kami. Aku sempat mengunjungi gumpalan awan yang besar. Ternyata tidak empuk. Bahkan disentuh pun tidak bisa. Tapi aku senang sekali. Sangat senang. Aku tidak akan bisa terbang tanpa sayap jika tidak ditemani olehnya. Ini akan selalu tersimpan dalam memory otakku. Tidak akan kulempar ke dalam recycle bin.

Sahabatku sering jadi bahan olokan. Aku sendiri heran. Hari-hari terasa begitu menyenangkan bersama sahabatku. Tapi kenapa orang-orang berbuat seperti itu padanya? Apa karena dia tidak pintar? Apa karena dia tidak cantik? Aku cuma anak SD yang bodoh. Tapi tidak tuli. Mendengar olok-olok itu hatiku seperti ditusuk dengan garpu karatan. Yang aneh bagiku, sahabatku tidak marah ataupun sakit hati. Dia tertawa. Seakan itu lelucon yang pantas untuk hiburan anak-anak. Kenapa bisa begitu? Bertahun-tahun kemudian, saat menatap langit, aku tersadar.

Aku mendapat satu pelajaran berharga dari sahabatku.

UAN [bag. III-tamat]

April 24, 2008 by daiichihime

Cerita tersebut hanyalah sepenggal kisah dari beribu-ribu kisah tentang UAN lainnya. Kira-kira setahun yang lalu, saya duduk di bangku kayu yang sama, menatap lembar soal yang ’sangat rahasia’ itu, dan menggenggam pensil 2B penuh harap. Waktu itu cuma 3 mapel yang diutamakan. Nggak ada apa-apanya dibanding UAN tahun ini. Tapi bikin deg-degan juga. Apa yang akan terjadi pada hidup saya jika saya tidak lulus? Saya bahkan sudah memikirkan seandainya saya mengulang, lalu duduk bersama adik kelas. Lalu sekelas dengan teman saya yang baru pulang dari pertukaran pelajar. Lalu berpose sekali lagi di buku tahunan. Apa yang akan saya rasakan bila itu terjadi?

Mapel yang menjadi momok bagi saya adalah matematika. Saya paham benar bahwa saya sangat lamban mencerna angka. Seakan angka-angka itu berloncatan di permukaan otak dan tidak mau masuk ke dalam ingatan. Saya belajar matematika tidak mati-matian. Dan pasrah saat mengerjakan ujian. Semoga doa saya dan orangtua terkabul. Itu saja. Saya sakit kepala dan sedikit demam ketika menunggu kabar. Sebab saya sudah menghitung-hitung probabilitas nilai matematika, dan itu pas-pasan sekali. Mendekati batas kelulusan. Saya khawatir si pembawa berita menyeramkan datang ke rumah karena matematika. Semoga tidak. Rumah saya ‘kan jauh.. begitu pikir saya. Konyol.

Saya menunggu sambil meringkuk di balik selimut. Sudah sore. Kenapa tidak ada tanda-tanda akan datangnya orang itu? Hah. Kenapa juga saya mengharapkan dia datang? Sudah larut malam. Saya baru bisa bernapas lega. Ternyata semua anak lulus. Semua senang. Dan ternyata, nilai matematika saya tidak pas-pasan. Saya sampai melotot karenanya. Apa benar ini nilai saya? Saya kemudian menyimpulkan, tidak hanya doa dan kerja keras agar kita lulus UAN, tapi juga… keberuntungan. Bukan contekan.

UAN kali ini berat sekali, saya sampai tidak percaya. Masa sih 6 mapel? Mengerikan… Semoga semua yang sedang ujian dapat lulus dengan nilai baik. Ganbatte!!

UAN [bag. II]

April 23, 2008 by daiichihime

Waktu habis?!

Anak-anak menumpahkan berbagai ekspresi. Kesal, pasrah, khawatir, gugup, puas, lega, takut, kecewa, bercampur aduk menyelimuti ruangan itu. Ada yang masih menulis, menelusuri bulatan hitam yang berderet, malah ada juga yang mengulangi doa panjangnya. Pengawas memunguti lembaran kertas bersejarah. Semua anak keluar ruangan. Ribut sendiri. Beberapa membolak-balik buku yang penuh dengan coretan stabilo berwarna cerah. ” Apa kamu bisa nomor sekian?” Astaga, kenapa aku bisa lupa?!” Ooh, untunglah jawabanku benar..” Banyak juga yang masih gugup sisa peristiwa tadi. Tangan mereka agak dingin. Mungkin hati mereka diliputi pertanyaan klise, apa aku akan lulus? Dan bertambah gugup saat menyadari bahwa perang belum usai.

Kebanyakan dari anak-anak itu langsung pulang. Yang biasanya keluyuran juga sama. Tiba di rumah anak-anak langsung membuka setumpuk buku. Pelampiasan akan peristiwa tadi pagi. Anak bertubuh gempal menyendok nasi sambil membaca catatan. Anak bertubuh ceking membaca sambil mengeluh, buku-buku itu seolah beramai-ramai menghimpitnya. Anak jenius sedikit santai sekarang. Karena yang diujikan besok cukup mudah. Orangtua bertanya apa yang terjadi di hari itu. Anak menjawab apa adanya, membuat miris hati yang mendengar. Apalagi mereka mengatakannya dengan nada pasrah. Orangtua terdiam. Anak-anak itu sendiri yang menentukan hasil akhirnya. Orangtua turut membantu dengan mencetuskan doa. Doa mereka biasanya dikabulkan.

Ujian berikutnya dilalui dengan sensasi yang berbeda. Tergantung pada siapa yang menghadapi. Sepertinya anak-anak mulai terbiasa dengan suasana itu. Mereka sudah belajar banyak hal. Mereka sudah mengucapkan doa berulang-ulang. Jari-jari tidak terasa kaku lagi saat menghitamkan bulatan. Sementara waktu terus mengalir. Perang pun berakhir. Semua bersorak penuh kelegaan. Anak geng meluapkannya di jalanan. Meskipun belum jelas lulus atau tidak. Kabarnya, yang tidak lulus akan didatangi rumahnya. Oleh si pembawa berita menyedihkan. Anak-anak tidak mengharapkan tamu satu ini. Akan aku kunci pintu dan jendela agar orang itu tidak bisa masuk, seru seseorang melempar lelucon. Percuma saja. Tapi lelucon itu sangat menghibur.

Anak-anak duduk kaku di dalam rumah. Gelisah. Mata mereka tetap mengawasi jarum jam yang berdetak. Apa tamu tak diundang itu akan datang? Apa yang akan terjadi bila dia benar-benar datang? Apa akan ada adegan tangis di ruang tamu? Jarum jam seolah mendengar pertanyaan itu. Waktu yang tersisa tinggal sedikit. Tiga.. Dua.. Satu.. Mereka tidak datang! Horeeeee…

Kisah ini berakhir dengan happy ending.

UAN [bag. I]

April 22, 2008 by daiichihime

Ini lebih mencekam daripada adegan di film horor. Ada lembaran-lembaran soal yang membuat panas dingin. Yang dikeluarkan dari kantong bertuliskan ’sangat rahasia’. Membuat hati penasaran luar biasa. Serahasia itukah? Lembar jawabannya terlihat begitu berkilau, halus, tanpa debu. Anak-anak menerimanya dengan hati-hati, takut terkotori oleh keringat tangan-tangan gemetaran. Semua peralatan telah siap di atas meja cokelat. Meja itu ditempeli foto bermuka masam. Pensil 2B merek terkenal berjumlah 2 buah, sudah diruncingkan seminggu yang lalu. Ditemani penghapus karet yang bisa diandalkan. Pengawas berceramah sebentar. Tidak boleh memakai HP, kalkulator, dan sejenisnya. Tidak boleh mencontek. Tidak boleh ini dan itu. Lalu semua menundukkan kepala, larut dalam doa panjang. ” Semoga aku bisa mengerjakan” Semoga aku ingat hafalan tadi malam” Semoga pengawas itu ketiduran” Semoga scanner itu rusak, dan nilaiku berubah jadi bagus semua..”

Perang dimulai. Sunyi seperti kuburan. Hanya ada suara pensil dan kertas yang dibalik. Anak yang namanya panjang mulai gugup. Dirinya masih sibuk menghitamkan kolom nama. Entah kenapa jari-jarinya kaku dan kesemutan. Yang lain sudah membolak-balik kertas soal. Komat-kamit sendiri, mencoba menumpahkan isi otak ke atas kertas. Ada yang sudah mengerjakan satu dua nomor. Menghitamkan bulatan jawaban sekaligus mengukir peruntungan mereka. Anak-anak itu seperti sedang di dunia lain. Jasadnya saja yang duduk rapi di bangku kaku itu. Pengawas mondar-mandir, seperti sipir mengawasi tahanan. Yang duduk di deret strategis makin merasa terpojok. Rasanya dunia seperti lambat berputar. Anehnya, jarum jam seakan bergerak lebih cepat.

Hari makin panas. Semua berkeringat, padahal kipas angin di ruangan itu tak berhenti berputar. Anak-anak sudah kembali ke dunia nyata. Anak yang hobi nyontek mulai gelisah dan serba salah. Serasa pengawas itu menatap terus ke arahnya, meskipun sebenarnya tidak. Kode-kode rahasia mulai dikirim. Seperti adegan film detektif. Anak yang jenius awalnya bersemangat, namun tidak demikian di babak akhir. Soal nomor buntut itu tidak terduga olehnya. Anak yang bodoh makin panik saat melihat kegugupan anak yang jenius. Pengawas menyebutkan waktu yang tersisa. Kedengarannya seperti sipir mengingatkan sisa waktu sebelum eksekusi. Semua memekik tertahan. Jam dinding itu pasti rusak. Semua kalang kabut, mengisi jawaban yang masih kosong berdasar insting. Yang penting terisi semua. Soal benar atau salah, hanya bisa berharap.

Waktu habis.

Our jutsu!

April 22, 2008 by daiichihime

minato

Kishimoto-san berhasil mendobrak masyarakat dunia dengan anime Naruto. Sejak terbitnya manga [ komik Jepang ], lalu kemunculan film animasinya, Naruto langsung mewabah di Indonesia. Game PS, action figure, boneka, asesori, stiker, baju, dan apapun barang yang terkait dengan Naruto juga bertebaran dimana-mana. Setiap mengetikkan kata ‘naruto’ dalam engine search, akan bermunculan segudang situs serta blog yang membahas tentang Naruto. Anime satu ini sangat digemari anak-anak hingga dewasa [ meskipun sebenarnya kurang tepat bagi anak-anak ] Mereka sampai banyak yang hafal nama-nama tokoh protagonis, antagonis, hingga jutsu milik Naruto dan tokoh lainnya.

Jutsu [ jurus, teknik, keahlian yang digunakan oleh ninja sebagai serangan maupun pertahanan - from wikipedia ] selalu digambarkan secara terperinci dalam anime tersebut. Jutsu mengandalkan segel tangan yang merupakan kombinasi simbol binatang. Anak-anak biasanya suka meniru gerakan segel tangan ini. Tapi yang menarik perhatian saya adalah jutsu itu sendiri. Saya pikir jutsu tidak hanya dimiliki ninja dalam fantasi Kishimoto-san saja. Orang biasa sekalipun memiliki jutsu. Kita semua punya. Benarkah?!

Jutsu seseorang berarti keahlian yang dimiliki orang tersebut. Misalkan A pintar sekali membuat perabot dari kayu. Dengan kata lain, A punya jutsu mengubah kayu. Tapi A merasa sulit dalam matematika, dia belum menguasai jutsu matematika. Untuk menguasai jutsu itu dia perlu berlatih dan berlatih terus. Jutsu digunakan sama halnya seperti Naruto menggunakan Kagebunshin yaitu untuk pertahanan. Si A tadi memanfaatkan jutsunya untuk usaha furniture, karena itulah dia bisa bertahan hidup. Tidak cuma itu, kalau A mengumpulkan orang dan mengajari jutsunya pada mereka, maka level A sekarang setingkat dengan Kakashi Sensei. Hebat ‘kan?

Beberapa dari kita mungkin belum menyadari jutsu itu. Entah karena kesibukan, atau karena tidak peduli. Padahal bisa jadi kita memiliki jutsu langka, sebab cuma segelintir orang saja yang menguasainya. Tidak perlu khawatir kalau merasa tidak belum menguasai apapun. Masih ada kesempatan…

Glekkh..

April 18, 2008 by daiichihime

Ada seorang cewek, sebut saja namanya Utih. Dia lagi jalan-jalan bareng Meme, temannya. Di tengah jalan, mereka ketemu Bay, kakak angkatan sekaligus mantan pemandu ospek mereka.

” Halo, kamu Meme ‘kan?” Sapa Bay pada Meme. ” Iya, Kak. Kok masih inget sih?” Jawab Meme heran. ” Ya, jelas dong! Saya ‘kan pemandu ospek kamu..” Sahut cowok itu. Lalu Bay melihat Utih. Dia tanya, ” Ngg.. kamu siapa ya, rasanya pernah kenal deh.” Utih protes, ” Masa nggak inget sih, Kak? Aku ospeknya juga bareng Meme lho..” Bay terdiam agak lama. ” Oh, iya!” Serunya tiba-tiba sambil menepuk jidat sendiri [ iyalah, masa' nepuk jidatnya Meme? ]

” Kamu yang paling males itu yaa?” Ucap Bay kelewat keras, persis kaya orang rebutan jawab kuis.

Glekkh… Seketika Utih melongo. Sedangkan cowok itu malah ngeloyor pergi. Tanpa beban sama sekali.

Siapakah Aku?

April 11, 2008 by daiichihime

Terlintas banyak pertanyaan di benakku ketika menyebut kalimat itu. Ya, sebenarnya aku ini siapa? Kita ini siapa? Mengapa aku ada dan hidup dalam sosok tubuh ini? Berjalan, berlari, dan melakukan apapun bersamaan dengan sosok tubuh yang familiar denganku walau bukan aku yang memilih tubuh ini. Aku heran, bingung, dan segala perasaan semacam itu berputar-putar dalam otakku setiap detiknya. Aku selalu diam merenung setelah membatin kalimat itu. Seolah ‘aku’ merasuk dalam otak, sel, dan aliran darah tubuh ini. Menggali-gali informasi yang bisa menjawab tanyaku. Siapa aku??!

Aku tahu, aku manusia. Tapi jawaban itu tetap saja menyisakan celah kebingungan dalam diri. Orangtuaku pernah berkata, ” Jika dulu ayah tidak bertemu ibu, atau ibu tidak memilih ayah dan memilih orang lain, kamu mungkin tidak tercipta disini, di dunia.” Lantas akan berada dimana? Tuhan mempertemukan ayah dan ibu, dan Dia menjadikanku hidup. Hidup dalam sosok tubuh ini. Tubuh manusia.

Saat dilanda bermacam masalah, aku sering berpikir.. Kenapa aku manusia? Yang harus mengarungi kehidupan dengan masalah berjatuhan menimpa kepalaku. Kupandangi seekor ayam, seekor kucing, seekor ikan, seekor kura-kura, yang hanya makan dan tidur saja kerjaannya. Apa yang akan terjadi bila aku hidup dalam sosok tubuh mereka? Apakah aku akan senang? Tidak tahu. Menurut penglihatan serta pikiranku yang dangkal ini, hewan-hewan itu terlihat normal saja kegiatan hariannya. Malah cenderung membosankan. Meskipun mereka tidak harus terbebani dengan masalah pelik. Eh, tidak juga. Terkadang seekor kucing di lingkungan rumahku selalu mengeong-ngeong ketakutan. Ternyata dia punya musuh. Seekor kucing besar tukang mengancam selalu membuatnya dilanda kengerian. Bila aku jadi dirinya, kupikir aku juga takut dan berharap aku bukan seekor kucing. Lalu ayam? Berharap saja tidak terpanggang saus mentega esok hari. Siapa yang tahu? Aku tidak mau jadi ayam panggang.

Jadi, kenapa aku adalah manusia? Aku baru menemukan jawabannya -tentunya versiku sendiri- setelah merenung sekian lama. Tuhan menciptakan segala apapun di dunia ini karena ada alasannya. Ada alasan kenapa aku ‘disini’ dan alasan itu harus kucari walau sampai ujung dunia sekalipun. Mungkin, kelak aku akan menjadi seseorang yang penting. Seseorang yang berpengaruh bagi dunia, meskipun itu kecil.

Selama ini aku merasa sangat dimudahkan dalam menjalani kehidupan di dunia. Aku memang belum jadi orang berhasil. Setidaknya belum.

Tapi aku masih berharap dapat menemukan alasan kenapa aku ada.