Di setiap game, ada saja kesulitan-kesulitan macam monster, musuh, jebakan mematikan, dan sebagainya. Lalu belakangan muncul tulisan: game over. Aah! Player berseru kesal. Sudah, begitu saja. Toh bisa direstart. Tokoh yang dimainkan seketika hidup kembali dan mengulang dari level tertentu(atau parahnya harus kembali ke level 1 lagi). Kadang-kadang kalau keadaannya kepepet malah sengaja membunuh diri sendiri karena bisa diulang dari awal.
Namun tidak demikian dalam dunia nyata. Banyak kasus orang mati karena membunuh dirinya sendiri. Mungkin karena kesulitan di dunia nyata terlalu besar dan dia terlanjur putus harapan untuk menamatkannya, maka diambillah jalan pintas game over tersebut. Ya sudah. Dia benar-benar tamat, karena tidak ada menu restart.
Di dunia game semua berjalan sesuai logika manusia khususnya logika si game creator. Kalau begini maka akan begitu. Lalu player yang tangguh dan benar-benar mengikuti rule akan keluar sebagai pemenang. Kalau ada cheat code maka semua player bahkan yang payah sekalipun juga akan menang, bahkan lebih cepat menamatkan gamenya.
But life isn’t as simple as in the game. Di dunia nyata, semua tak selalu berjalan sesuai logika manusia. Memang harus cukup tangguh untuk bisa melanjutkan ke level berikutnya. Cheat code (baca: curang) juga ada di dunia ini, banyak malah, tapi efeknya kelak akan menyengsarakan player itu sendiri. Cepat atau lambat.
Seseorang tanpa sadar telah memberi inspirasi waktu saya duduk di tepi luar lantai 2, kemudian dia berkata, “Jangan bunuh diri sekarang lho”, dengan maksud bergurau. Saya cuma senyum-senyum. Apa dia pikir saya sudah menyerah dalam mengarungi lika-liku dunia nyata ini? Begitu dugaan saya pertama kali saat mendengar ucapannya. Saya ralat seketika. Hei, dia kan cuma menyapa saya saja. Mungkin itulah cara orang-orang humoris menyapa orang.
Bunuh diri tidak menyelesaikan masalah. Malah menambah masalah. Tapi terkadang orang-orang yang ‘sakit’ tidak memikirkan hal tersebut. Saya bersyukur karena kepercayaan saya melarang tindakan bodoh itu.
Di suatu tempat nun jauh disana ada istilah ‘bunuh diri lebih terhormat daripada menanggung malu’. Terdengar heroik dan menggetarkan jiwa. Tapi apa mereka tahu bahwa masih ada alam sesudah mereka mati?
Coba renungkan dalam beberapa menit.
Anda terbujur tanpa nyawa karena sebuah kesengajaan yang Anda buat sendiri. Foto dan berita mengenai Anda muncul di koran, tapi bukannya membanggakan malah mengiris hati orang terdekat Anda. Anda berhasil keluar dari kesulitan-kesulitan di dunia, melegakan sesaat, tapi kesulitan baru bahkan yang besarnya berkali lipat telah menanti Anda di alam berikutnya. Anda tak bisa melarikan diri dari alam itu, sebab istilah game over tidak berlaku disana, sementara Anda tak memiliki bekal apapun sebagai penolong Anda dari kesulitan.
Kepada Anda yang mulai merasa tulisan ini sampah penuh kata-kata klise dan tak bermutu, lalu Anda memutuskan untuk berhenti membaca ini:
Mungkin sebagian dari Anda ada yang merasa tak memiliki orang terdekat, merasa seluruh manusia membenci Anda , merasa bahwa Anda adalah manusia paling sengsara di dunia, dan merasa tidak ada gunanya bertahan hidup dalam situasi macam ini. Apakah pernah terlintas di benak Anda bahwa,
Adakah alasan kenapa Anda ‘ada’ disini, di dunia ini? Kenapa bukan orang lain saja yang lahir, kenapa malah Anda?
Creator/Pencipta Anda, Tuhan yang Maha Esa, Allah SWT menjadikan Anda hidup sebagai player di muka bumi ini karena suatu alasan. Kalau tak ada alasan lantas bagaimana bisa Anda berada disini sambil memelototi tulisan di blog ini? Mungkin banyak yang belum menyadari apa alasan itu. Coba tanyakan pada nurani Anda masing-masing.
Terus terang pada awalnya saya merasa tak pantas menulis ini. Saya manusia yang tak luput dari dosa. Ada alasan kenapa saya menulis. Pertama, ini menjadi catatan untuk diri saya dan semua yang membaca agar selalu optimis dalam menjalani hidup. Kedua, saya merasa prihatin melihat begitu banyaknya kasus bunuh diri. Kenapa harus bunuh diri? Semua masalah, cepat atau lambat pasti ada jalan keluarnya. Disinilah kesabaran dan keimanan manusia diuji.
Selama ini saya berusaha untuk sabar, meskipun rasanya sulit sekali. Saya sering membatin: Kenapa saya begini? Kenapa saya tidak begitu? Kenapa harus saya? Dan banyak lagi yang kalau dijabarkan mungkin akan menambah depresi. Saya sering memandang langit yang tak berujung dengan pikiran entah kemana karenanya. Namun saya yakin Tuhan yang Maha Esa tak akan menguji hambaNya diluar batas. Banyak hal-hal yang (kelihatannya) kecil yang harus saya syukuri.
Jogja, 12-12-2009 12.06AM (tapi baru sempat diposting sekarang ^^)
Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah, tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik, Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasaNya bagi hambaNya yang sabar dan tak kenal putus asa. (D’Massive-Jangan Menyerah)
Bersyukurlah pada yang Maha Kuasa, hargailah orang-orang yang menyayangimu, yang selalu ada, setia disisimu. (Gigi-Sang Pemimpi)