Sss..hah!

Sambal itu aneh. Bila kebanyakan makan sambal: wajah memerah, mata dan hidung berair, mulut mengeluarkan suara berdesis aneh, tangan melakukan gerakan mengipas-ngipas. Yang lebih parah bila berlanjut ke lambung, perut terasa sakit, melilit, dan harus bolak-balik ke toilet. Anehnya, siksaan itu tidak dipedulikan. Karena, tanpa disadari tangan akan bergerak menciduk nasi ke piring yang kedua kali, atau mungkin yang ketiga kali, untuk dimakan bersama sambal itu lagi!

Sambal itu ajaib. Bisa menyulut emosi orang, tapi bisa juga meredam emosi orang. Ada orang yang habis makan sambal mendadak uring-uringan dengan muka merah padam. Mungkin karena kesal kepedasan, maka semua jadi sasaran kekesalan. Ada orang yang tadinya ingin marah-marah, tapi tidak jadi karena makan sambal. Sambal jadi pelampiasannya. Amarahnya langsung lenyap, terhapus oleh pedasnya sambal.

Sambal itu menakutkan. Anak-anak kecil menangis saat pertama kali merasakan pedasnya sambal. Rasa pedas itu terekam jelas di otak dan mereka tidak ingin merasakannya lagi. Lalu, setiap mendengar kata ‘ini ada sambalnya’ atau ‘ini pedas’ mereka tidak akan mau menyentuh makanan yang dimaksud. Anak-anak besar menakuti anak-anak kecil [yang menginginkan makanan miliknya] dengan cara ini.

Sambal itu merakyat. Bisa ditemui dimana saja. Di gerobak dorong penjual soto, sate, pempek, siomay, bakso, dan mi ayam. Di rumah makan Padang sampai restoran hotel berbintang. Di tenda-tenda penjual nasi kucing dan gorengan. Di dalam bakul jajanan yang digendong seorang ibu tua.

Meskipun pedasnya minta ampunn.. tetap saja jadi favorit. Sekali mencocol sambal, entah itu sambal bawang, sambal goreng, sambal terasi, sambal tomat, sambal tempe, sambal kacang, sambal kecap, sambal cabe ijo, atau sambal botolan, terbitlah suatu sensasi di papilla lidah. Bukan manis, asin, asam, ataupun pahit. Wuihh…! Begitu unik menggigit.

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan