Kenapa orang suka merokok? Apa sih manfaat dari merokok?
Apakah agar terlihat ehm.. Keren? Gaul? Dewasa? Pemberani? Tangguh? Jantan? Macho?
Mungkin tidak selalu begitu alasannya. Kenapa? Karena bukan hanya pria yang menjadi perokok. Wanita pun merokok. Karena bukan hanya orang dewasa yang menjadi perokok. Anak ingusan pun merokok.
Sebenarnya tidak ingin menghakimi (siapa sih aku ini?) tapi sejujurnya menurut pandangan pribadi, perokok itu.. EGOIS.
Egois kepada orang di sekitarnya, egois kepada keluarga, egois kepada teman, dan egois kepada dirinya sendiri. Orang yang sehat wal afiat bisa terkena komplikasi penyakit yang lebih parah karena terpaksa menjadi perokok pasif.
“Kalau tidak mau jadi pasif, jadi perokok aktif aja sekalian!” Maka tercetuslah gerakan ‘Merokok Berantai’. Wow. Bukannya memperbaiki, malah memperparah keadaan.
Merokok berarti membunuh orang-orang tercinta secara perlahan dan tak kasat mata.
Siapa yang tega menyakiti keluarga sendiri? Ayah, ibu, istri/suami, anak, kakek, nenek, adik, kakak. Bagaimana jika mereka menderita suatu penyakit, dan bertambah buruk karena asap rokok yang dikepulkan oleh seseorang yang mereka sayangi?
Siapa yang tega menyakiti teman sendiri? Penolong di kala susah, penghibur di kala sedih. Bagaimana jika dia menderita suatu penyakit, dan bertambah buruk karena asap rokok yang dikepulkan oleh seseorang yang mengaku sebagai sahabatnya?
Terkecuali jika teman sama-sama merokok, saling bertukar asap rokok, saling menambah penyakit. Setia kawan, bukan? Tinggal tebak saja kelanjutan cerita tentang persahabatan sesama perokok ini (itu pun kalau ada lanjutannya).
Sepenggal kutipan dari puisi karya Taufik Ismail berjudul Tuhan Sembilan Senti membuatku tercenung:
“ 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir(babi).
Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?”
Kaitkata: rokok